alexametrics

Uji in Vitro Kementan: 80 Persen Virus Korona Mati dengan Eucalyptus

6 Mei 2020, 03:30:51 WIB

JawaPos.com – Hasil uji in vitro yang dilakukan Balai Penelitian Rempah dan Obat Kementerian Pertanian menunjukkan 60 hingga 80 persen virus korona mati dengan eukaliptus. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) tengah melakukan penelitian terhadap sejumlah tanaman rempah dan obat yang bisa digunakan untuk mengobato Covid-19.

“Hasil penelitian terakhir untuk eukaliptus sudah sampai molecular docking, mencocokkan ke virus, diuji in vitro 60 hingga 80 persen virusnya mati. Tapi memang virusnya bukan (penyebab) Covid-19. Kami coba ke virus korona lain,” kata Kepala Balittro Kementan Evi Safitri dilansir dari Antara, Rabu (6/5).

Penambatan molekul atau molecular docking adalah metode komputasi yang bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in vitro.

Evi mengatakan Balittro mencoba meneliti sejumlah tanaman rempah dan obat untuk dapat digunakan mengatasi Covid-19. Beberapa di antaranya jahe merah, kunyit, temulawak, kayumanis, cengkeh, kulit jeruk, jambu biji, meniran, sambiloto, seraiwangi, eukaliptus, kayu putih, VCO.

Sebenarnya, menurut dia, ada banyak jenis tanaman yang memiliki potensi untuk pengobatan. Apalagi, Indonesia berada di peringkat tiga negara dengan keanegaragaman hayati tertinggi di dunia.

Namun, baru sekitar 300 jenis tanaman yang sudah diteliti atau dimanfaatkan untuk pengobatan. Itupun kebanyakan baru sampai level jamu.

Evi mengatakan, belum banyak tanaman rempah yang dicoba dikembangkan untuk menjadi obat modern. Tahapannya pun sangat panjang.

Pasalnya, harus melewati uji empiris yang setidaknya tercatat sudah tiga generasi tanaman obat atau rempah tersebut bisa mengobati. Selanjutnya, kata Evi, calon obat tersebut harus melewati uji in vitro dan in vivo sebelum akhirnya harus melalui uji klinis.

Tahapan uji klinis pun tidak mudah karena setidaknya ada empat tahap dengan kisaran diujikan ke 100 orang. “Jadi jalannya masih sangat panjang,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Antara




Close Ads